The Durian Dilemma: A Market of Surprise

Fluent Fiction – Indonesian
www.FluentFiction.org/Indonesian
Story Transcript:
Id: Di tengah keramaian pasar tradisional Indonesia, ada seorang anak laki-laki bernama Budi yang mata berbinar-binar saat ia melihat buah durian.
En: In the midst of the bustling traditional market in Indonesia, there was a boy named Budi whose eyes sparkled when he saw the durian fruit.

Id: Pasar itu penuh dengan bau rempah dan suara penjual yang memanggil-manggil pembeli, tapi Budi hanya tertarik pada satu hal, yaitu durian yang ada di hadapannya.
En: The market was filled with the scent of spices and the calls of vendors trying to attract customers, but Budi was only interested in one thing, the durian in front of him.

Id: Budi mendekati kios buah, langkahnya cepat dan semangatnya tiada banding.
En: Budi approached the fruit stall, his steps fast and his enthusiasm unmatched.

Id: Di sana, di atas meja kayu tua, terpampang buah durian yang besar, dengan kulit yang tampak begitu kerasdan duri yang tajam.
En: There, on the old wooden table, lay a large durian with a tough-looking skin and sharp spikes.

Id: Wanginya menusuk hidung Budi, menciptakan air liur di mulutnya.
En: Its aroma penetrated Budi’s nostrils, creating saliva in his mouth.

Id: “Berapa harganya, Pak?
En: “How much is it, sir?”

Id: ” tanya Budi kepada penjual yang sedang sibuk dengan pelanggannya.
En: Budi asked the busy seller.

Id: “Ah, untuk kamu saja, murah sekali.
En: “Oh, for you, it’s very cheap.

Id: Lima puluh ribu rupiah,” jawab penjual itu sambil tersenyum lebar.
En: Fifty thousand rupiah,” the seller answered with a wide smile.

Id: Budi meraih sakunya dan merasa kecewa, karena uang yang dibawanya hanya cukup untuk membeli yang seharga empat puluh ribu rupiah.
En: Budi reached into his pocket, feeling disappointed because the money he had was only enough to buy something worth forty thousand rupiah.

Id: Dia lalu mengambil napas dalam-dalam dan berkata, “Pak, bisa kurang tidak?
En: He took a deep breath and said, “Sir, is it possible to lower the price?

Id: Saya hanya punya empat puluh ribu.
En: I only have forty thousand.”

Id: “Penjual itu mengerutkan keningnya sejenak dan mulai berfikir.
En: The seller frowned for a moment and began to think.

Id: Budi berdiri dengan penuh harap, berharap penjual tersebut akan berhati lembut.
En: Budi stood there full of hope, hoping the seller would be kind-hearted.

Id: Setelah beberapa saat terjadi tawar-menawar, penjual itu menggeleng.
En: After a few moments of negotiation, the seller shook his head.

Id: “Maaf, Nak.
En: “Sorry, son.

Id: Harga sudah pas.
En: The price is already fair.”

Id: “Budi merasa hampa, tapi dia tidak menyerah.
En: Budi felt deflated, but he did not give up.

Id: Dia meyakinkan penjual itu dengan kata-katanya yang penuh semangat, “Pak, ini akan menjadi makanan terakhir sebelum saya pulang.
En: He convinced the seller with his passionate words, “Sir, this will be the last meal before I go back.

Id: Durian kesukaan nenek saya, dan hari ini hari ulang tahunnya.
En: It’s my grandma’s favorite durian, and today is her birthday.”

Id: “Mendengar itu, penjual menghela napas dan akhirnya tersenyum.
En: Hearing this, the seller sighed and finally smiled.

Id: “Baiklah, karena itu untuk nenekmu, aku kasih kamu empat puluh ribu.
En: “Alright, because it’s for your grandmother, I’ll give it to you for forty thousand.”

Id: “Dengan senyuman yang merekah, Budi segera menyerahkan uangnya.
En: With a wide smile, Budi immediately handed over his money.

Id: Tapi, ketika dia hendak mengambil durian itu, tangannya terasa aneh.
En: But as he reached for the durian, it felt strange.

Id: Durian tersebut terlalu ringan.
En: It was too light.

Id: Budi mengerutkan dahi, bingung.
En: Budi furrowed his brow, confused.

Id: Dengan tangan yang gemetar, dia segera menyadari sesuatu yang tidak terduga.
En: With trembling hands, he soon realized something unexpected.

Id: “Kok bisa ringan begini, Pak?
En: “Why is it so light, sir?”

Id: ” Budi bertanya dengan cemas.
En: Budi asked in distress.

Id: Penjual itu tertawa kecil dan berkata, “Oh, itu?
En: The seller chuckled and said, “Oh, that?

Id: Itu hanya replika plastik, Nak.
En: It’s just a plastic replica, son.

Id: Untuk pajangan saja.
En: Just for display.”

Id: “Budi tertegun, hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
En: Budi was stunned, almost unable to believe what had just happened.

Id: Wajahnya merona padam, tapi penjual itu tidak tega melihat kekecewaan dalam mata Budi.
En: His face turned pale, but the seller couldn’t bear to see the disappointment in Budi’s eyes.

Id: “Tidak apa-apa, Nak.
En: “It’s okay, son.

Id: Aku punya durian asli di sini,” kata penjual itu sambil menunjukkan durian yang sesungguhnya.
En: I have a real durian here,” the seller said as he showed the real durian.

Id: Akhirnya, Budi pulang dengan membawa durian asli ke rumah neneknya.
En: Finally, Budi went home with a real durian for his grandmother.

Id: Walaupun sempat kecewa, cerita tersebut menjadi kenangan manis dan pelajaran bagi Budi tentang kejutan kecil yang ada di pasar tradisional Indonesia.
En: Although he was initially disappointed, the story became a sweet memory and a lesson for Budi about the small surprises in Indonesian traditional markets.

Id: Neneknya pun tersenyum bahagia saat Budi memberikan hadiah ulang tahun yang spesial itu.
En: His grandmother smiled happily when Budi presented her with that special birthday gift.

Vocabulary Words:
berbinar-binar : sparkled
durian : durian
rempah : spices
tampak begitu keras : tough-looking
duri : spikes
menusuk : penetrated
air liur : saliva
kecewa : disappointed
cukup : enough
napas dalam-dalam : deep breath
tawar-menawar : negotiation
hampa : deflated
penuh semangat : passionate
kekecewaan : disappointment
tertegun : stunned
replika : replica
pajangan : display
gemetar : strained
tidak terduga : unexpected
cemas : distress
tertawa kecil : chuckled
tidak bisa : unable
kekecewaan : disappointment
asli : real
mempersembahkan : presented
manis : sweet
kejutan : surprises
pasar tradisional : traditional markets
bahagia : happily
spesial : special